Kamis, 13 Desember 2012

jenis alat permainan untuk perkembangan emosi dan sosial AUD


PEMILIHAN DAN PEMAMFAATAN ALAT PERMAINAN DALAM PERKEMBANGAN EMOSI DAN SOSIAL
        A. Pengertian
Perkembangan emosi sangat erat kaitannya dengan perkembangan sosial, walaupun masing-masing ada kekhususannya. Yang berkaitan dengan emosi adalah perhatian,pujian, dan lain-lain.sedangkan aspek sosial adalah interaksi yang lancer antara guru dan murid. Penguasaan emosi pada anak banyak tergantung pada faktor-faktor kematangan anak itu sendIri. Menurut Hurlock (1995) pola permainan mengendalikan emosi anak adalah permainan yang bernuansa sosial yaitu pola permainan yantu yang melibatkan orang lain atau teman secara penuh.

Manajemen mutu pendidikan


A.      Pengertian Manajemen  Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah.
Bervariasinya kebutuhan siswa akan belajar, beragamnya kebutuhan guru dan staf lain dalam pengembangan profesionalnya, berbedanya lingkungan sekolah satu dengan lainnya dan ditambah dengan harapan orang tua/masyarakat akan pendidikan yang bermutu bagi anak dan tuntutan dunia usaha untuk memperoleh tenaga bermutu, berdampak kepada keharusan bagi setiap individu terutama pimpinan kelompok harus mampu merespon dan mengapresiasikan kondisi tersebut di dalam proses pengambilan keputusan. Ini memberi keyakinan bahwa di dalam proses pengambilan keputusan untuk peningkatan mutu pendidikan mungkin dapat dipergunakan berbagai teori, perspektif dan kerangka acuan (framework) dengan melibatkan berbagai kelompok masyarakat terutama yang memiliki kepedulian kepada pendidikan. Karena sekolah berada pada pada bagian terdepan dari pada proses pendidikan, maka diskusi ini memberi konsekwensi bahwa sekolah harus menjadi bagian utama di dalam proses pembuatan keputusan dalam rangka peningkatan mutu pendidikan. Sementara, masyarakat dituntut partisipasinya agar lebih memahami pendidikan, sedangkan pemerintah pusat berperan sebagai pendukung dalam hal menentukan kerangka dasar kebijakan pendidikan.
Strategi ini berbeda dengan konsep mengenai pengelolaan sekolah yang selama ini kita kenal. Dalam sistem lama, birokrasi pusat sangat mendominasi proses pengambilan atau pembuatan keputusan pendidikan, yang bukan hanya kebijakan bersifat makro saja tetapi lebih jauh kepada hal-hal yang bersifat mikro; Sementara sekolah cenderung hanya melaksanakan kebijakan-kebijakan tersebut yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan belajar siswa, lingkungan Sekolah, dan harapan orang tua.
Pengalaman menunjukkan bahwa sistem lama seringkali menimbulkan kontradiksi antara apa yang menjadi kebutuhan sekolah dengan kebijakan yang harus dilaksanakan di dalam proses peningkatan mutu pendidikan. Fenomena pemberian kemandirian kepada sekolah ini memperlihatkan suatu perubahan cara berpikir dari yang bersifat rasional, normatif dan pendekatan preskriptif di dalam pengambilan keputusan pandidikan kepada suatu kesadaran akan kompleksnya pengambilan keputusan di dalam sistem pendidikan dan organisasi yang mungkin tidak dapat diapresiasiakan secara utuh oleh birokrat pusat. Hal inilah yang kemudian mendorong munculnya pemikiran untuk beralih kepada konsep manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah sebagai pendekatan baru di Indonesia, yang merupakan bagian dari desentralisasi pendidikan yang tengah dikembangkan.
Manajemen mutu pendidikan berbasis sekolah merupakan alternatif baru dalam pengelolaan pendidikan yang lebih menekankan kepada kemandirian dan kreatifitas sekolah. Konsep ini diperkenalkan oleh teori effective school yang lebih memfokuskan diri pada perbaikan proses pendidikan (Edmond, 1979). Beberapa indikator yang menunjukkan karakter dari konsep manajemen ini antara lain sebagai berikut;
(i)                 lingkungan sekolah yang aman dan tertib
(ii)               sekolah memilki misi dan target mutu yang ingin dicapai
(iii)             sekolah memiliki kepemimpinan yang kuat,
(iv)             adanya harapan yang tinggi dari personel sekolah (kepala sekolah, guru, dan staf lainnya termasuk siswa) untuk berprestasi
(v)               adanya pengembangan staf sekolah yang terus menerus sesuai tuntutan IPTEK
(vi)             adanya pelaksanaan evaluasi yang terus menerus terhadap berbagai aspek akademik dan administratif, dan pemanfaatan hasilnya untuk penyempurnaan/perbaikan mutu, dan
(vii)           adanya komunikasi dan dukungan intensif dari orang tua murid/masyarakat.
Pengembangan konsep manajemen ini didesain untuk meningkatkan kemampuan sekolah dan masyarakat dalam mengelola perubahan pendidikan kaitannya dengan tujuan keseluruhan, kebijakan, strategi perencanaan, inisiatif kurikulum yang telah ditentukan oleh pemerintah dan otoritas pendidikan. Pendidikan ini menuntut adanya perubahan sikap dan tingkah laku seluruh komponen sekolah; kepala sekolah, guru dan tenaga/staf administrasi termasuk orang tua dan masyarakat dalam memandang, memahami, membantu sekaligus sebagai pemantau yang melaksanakan monitoring dan evaluasi dalam pengelolaan sekolah yang bersangkutan dengan didukung oleh pengelolaan sistem informasi yang presentatif dan valid. Akhir dari semua itu ditujukan kepada keberhasilan sekolah untuk menyiapkan pendidikan yang berkualitas/bermutu bagi masyarakat.
Dalam pengimplementasian konsep ini, sekolah memiliki tanggung jawab untuk mengelola dirinya berkaitan dengan permasalahan administrasi, keuangan dan fungsi setiap personel sekolah di dalam kerangka arah dan kebijakan yang telah dirumuskan oleh pemerintah. Bersama - sama dengan orang tua dan masyarakat, sekolah harus membuat keputusan, mengatur skala prioritas disamping harus menyediakan lingkungan kerja yang lebih profesional bagi guru, dan meningkatkan pengetahuan dan kemampuan serta keyakinan masyarakat tentang sekolah/pendidikan. Kepala sekolah harus tampil sebagai koordinator dari sejumlah orang yang mewakili berbagai kelompok yang berbeda di dalam masyarakat sekolah dan secara profesional harus terlibat dalam setiap proses perubahan di sekolah melalui penerapan prinsip-prinsip pengelolaan kualitas total dengan menciptakan kompetisi dan penghargaan di dalam sekolah itu sendiri maupun sekolah lain.
Ada empat hal yang terkait dengan prinsip - prinsip pengelolaan kualitas total yaitu;
(i)                 perhatian harus ditekankan kepada proses dengan terus - menerus mengumandangkan peningkatan mutu
(ii)               kualitas/mutu harus ditentukan oleh pengguna jasa sekolah
(iii)             prestasi harus diperoleh melalui pemahaman visi bukan dengan pemaksaan aturan
(iv)             sekolah harus menghasilkan siswa yang memiliki ilmu pengetahuan, keterampilan, sikap arief bijaksana, karakter, dan memiliki kematangan emosional. Sistem kompetisi tersebut akan mendorong sekolah untuk terus meningkatkan diri, sedangkan penghargaan akan dapat memberikan motivasi dan meningkatkan kepercayaan diri setiap personel sekolah, khususnya siswa.
Jadi sekolah harus mengontrol semua semberdaya termasuk sumber daya manusia yang ada, dan lebih lanjut harus menggunakan secara lebih efisien sumber daya tersebut untuk hal - hal yang bermanfaat bagi peningkatan mutu khususnya. Sementara itu, kebijakan makro yang dirumuskan oleh pemerintah atau otoritas pendidikan lainnya masih diperlukan dalam rangka menjamin tujuan - tujuan yang bersifat nasional dan akuntabilitas yang berlingkup nasional.



Kronologi pengembangan kurikulum


   pengembangan kurikulum mulai dari tahun 1968 sampai tahun 2004 !
v  Kurikulum 1968
Sebelum kurikulum 1968, pemerintah telah menyusun beberapa kurikulum tk misalnya kurikulum pada tahun 1964. Kurikulum tersebut disusun lebih dipengaruhi oleh kurikulum SD yang mempersiapkan anak untuk masuk ke SD. Namun, pada tahun 1968 pemerintah mengeluarkan kurikulum tk yang lebih disempurnakan yaitu kurikulu tahun 1968 yang menjadi pedoman resmi bagi penyelenggara pendidikan tk di Indonesia. Tujuan umum kurikulum tersebt adalah membentu manusia pancasia sejati, yang bertaqwa kepada tuhan yang maha esa yang cakap, sehat, dan terrampil, serta bertanggungjawab kepada tuhan, masyarakat dan Negara. Adapn dasar-dasar krikulum 1968 adalah dasar filosofis, psikologis, sosiologis, dan dasar organisatoris.
Penyajian bahan-bahan kegiatan dilaksanakan dalan satu satuan yang dihubungkan oleh suatu pokok atau “unit”. Unit adalah suatu pokok yang diambil dari lingkungan anak yang dibahas dlaam waktu tertentu. Tiap unit diuraikan dalam “pusa-pusa minat”. Pelaksanaan kegiatan dalam kesatuan unit dan pusat minat tersebut sesuai dengan “integrated curriculum”.
Garis-garis besar kegiatan TK dikelompokkan dalam 8 bidang, yaitu :
·         bidang penerapan pancasila
·         bidang bermain/kegiatan kelas
·         bidang pendidikan bahasa
·         bidang alam sekitar
·         bidang pendidikan jasmani
·         bidang ungkapan kreatif/kesenian
·         bidang sosial-medis,
·         bidang pendidikan skolastik.
v  Kurikulum 1976
Kurikulum TK tahun 1976 dilaksanakan berdasarkan keputusan menteri pendidikan dan kebudayaan RI nomor 054/U/1977 yang menyebutkan bahwa taman kanak-kanak adlaah lembaga pendidikan gabi anak usia pra sekolah dari 3-6 tahun untuk pembinaan kepribadian, kesejahteraan, dan pembinaan sifat-sifat dasar untuk menjadi warga yang Negara yang baik serta untuk mempersiapkan mereka bagi pendidikannya di sekolah dasar. Adapun prinsip-prinsip yang mendasari kurikulum TK tahun 1976 adalah :
Ø  Prinsip fleksibilitas program
Ø  Prinsip efisiensi dan efektifitas
Ø  Prinsip berorientasi pada tujuan
Ø  Prinsip kontinuitas
Ø  Prinsip pendidikan seumur hidup
Adapun garis-garis besar program kegiatan TK dikelompokkan ke dalam 7 bidang :
·         Bidang pengembangan pendidikan moral pancasila
·         Bidang pengembangan kegiatan/ bermain bebas
·         Bidang pengembangan pendidikan bahasa
·         Bidang pengembangan pengenalan lingkungan hidup
·         Bidang pengembangan ungkapan kreatif
·         Bidang pengembangan pendidikan dan pemeiharaan kesehatan
·         Bidang pengembangan pendidikan skolastik

v  Kurikulum 1984
Kurikulum ini juga sering disebut "Kurikulum 1975 yang disempurnakan". Alasan perbaikan kurikulum tersebut adalah perlunya penilaian kembali dan perbaikan kurikulum secara menyeluruh melalui pendekatan pengambangan pada pilihan kemampuan dasar yang harus dimiliki siswa, menyatukan wawasan kognitif, afektif dan psikomotor, serta penyesuaian antara tjuan dan program dengan perkembnagn masyarakat, pembangunan, ilmu, dan teknologi. Serta pelaksanaan pendidikan sejarah perjuangan bangsa. Adapun program pendidikan di TK mencakup bidang-bidang pengembangan ; pendidikan moral pancasila, pendidikan sejarah perjuangan bangsa, kemampuan berbahasa, perasaan, kemasyarakatan, kesadaran lingkungan, daya cipta, pengetahuan, jasmani dan kesehatan.
v  Kurikulum 1994
Isi program pembelajaran pada kurikulum ini adalah : pertama, program kegiatan belajar dalam rangka pembentukan perilaku melalui pembasaan yang terwujud dalam kegiatan sehari-hari di TK yang meliputi, moral pancasila, agama disiplin, emosi dan kemampuan bermasyarakat. Kedua, program kegiatan belajar dalam rangka pengembangan kemampuan dasarmelalui kegiatan yang dipersiapkan oleh guru yang meliputi kemampuan berbahasa, daya pikir, daya cipta, keterampilan dan jasmani. Adapun tema-tema yang dikembangkan dalam kurikuum ini adalah : aku, panca indera, keluargaku, rumah, sekolah, makanan dan minuman, pakaian, kebersihan, keehatan dan keamanan, binatang, tanaman, kendaraan, pekerjaan, rekreasi, air dan udara, api, negaraku, gejala-gejala alam, matahari, bulan, bintang, bumi, kehidupan di kota, desa, pesisir, dan pegunungan
v  Kurikulum 2004 / KBK
Dalam kurikulum 2004 TK dan RA mempunyai fungsi :
·         Mengenalkan peraturan dan menanamkan disiplin pada anak
·         Mengenalkan anak dengan dunia sekitar
·         Menumbuhkan sikap dan prilaku yang baik
·         Mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan bersosialisasi
·         Mengembangkan keterampilan, kreativitas, dan kemampuan yang dimiiki anak
·         Meyiapkan anak untuk memasuki pendidikan dasar
Selain itu juga mempunyai tujuan :
Membantu anak didik megembangkan berbagai potensi baik psokis maunpun fisik yang meliputi moral dan nilai-nilai agama, sosial, emosional, kognitif, bahasa, fisik/motorik, kemandirian, dan seni untuk memasuki pendidian dasar.
Ruang lingkup kurikulum 2004 meiputi aspek perkembangan:
Moral dan nlai-nilai agama, sosial, emosional, dan kemandirian, kemampuan berbahasa, kognitif, fisik/motorik dan seni.
Dalam proses pembelajaran  hendaknya memperhatikan bermacam-maam prinsip, diantaranya; pembelajaran berorientasi pada prinsip-prinsip perkembangan anak, pada kebutuhan anak, bermain sambil belajar atau belaja seraya bermain, menggunakan pendekata tematik, kreatif dan inovatif, lingkungan kondusif, mengembangkan kecakapan hidup.

bidang pengembangan yang belum dipahami anak


BIDANG PENGEMBANGAN YANG BELUM DIPAHAMI ANAK
Salah satu bidang pengembangan yang belum dipahami anak yaitu bidang pembiasaan dengan indikator :
“Berbuat baik terhadap semua makhluk tuhan, misalnya : tidak mengganggu orang yang sedang melakukan kegiatan, tidak menyakiti binatang, menyiram tanaman.”
1.      Salah satu indikator tersebut belum atau kurang dipahami anak terlihat dalam tingkah lakunya sehari-hari. Bentuk-bentuk tindakan yang dilakukannya seperti :
2.      Suka mengganggu temannya yang sedang melaksanakan kegiatan di lokal sehingga kegitannya sendiripun sering terbengkalai
3.      Banyak dari binatang-binatang kecil yang ia temui diperlakuannya dengan menyakiti binatang tersebut, dan sepertinya hal tersebut menjadi kepusaan tersendiri bagi si anak
4.      Tidak hanya binatang, ia pun tidak memperdulikan tumbuh-tumbuhan yang ada di pekarangan sekolah
5.      Jika didekati oleh guruya tidak terlalu erpengaruh terhadap dirinya.
Hal tersebut terdapat beberapa hal yang melatarbelakangi tingkah laku anak, seperti :
1.      terlalu dimanjakan oleh orang tua si anak sehingga semua kehendaknya harus dipenuhi
2.      si anak yang memiliki ego yang tinggi sehingga kurang disenangi teman-temannya. Hal tersebut berdampak pada si anak dan juga pada teman-temannya.
Solusi yang telah dilakukan oleh guru :
1.      Mengkomunikasikan kepada orang tua anak terhadap apa yang telah dilakukan anak
2.      Mengkomunikasikan juga kepada teman-temannya agar ia juga di ajak bermain bersama dengan teman-temannya.
3.      Memberikan perhatian yang lebih kepada si anak
4.      Mendekati si anak dengan cara personal